Ekonomi Kreatif, Yes…!!!

Posted: Desember 31, 2011 in Uncategorized

Menjadi seorang anggota DPD bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, tidak setiap orang dapat melakukannya. Saya sendiri merasa jika berada pada posisi tersebut, saya tidak akan sanggup memegang tanggung jawab tersebut. Namun, seandainya saya menjadi anggota DPD, saya ingin memajukan industri kreatif dan mendukung lahirnya entrepreneur baru. Inilah solusi untuk mengentaskan kemiskinan yang selama ini kita hadapi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari tambang, tanah dan subur, alam yang indah, hingga laut yang menyimpan kekayaan bahari. Namun, tahukah kalian apakah sumber daya yang lebih berharga dari itu semua? Jawabannya adalah sumber daya manusia.

Negara kita kekurangan wirausahawan. Cukup memprihatinkan bila melihat paradigma lulusan sekarang yang berpikir untuk menjadi pekerja bukan seorang entrepreneur. Apalagi untuk para sarjana, menimbang sarjana dipersiapkan untuk membuka lapangan kerja. Dalam hal ini negara kita masih jauh tertinggal. Kenapa? Karena negara yang maju adalah negara yang mengandalkan SDM-nya, bukan lagi SDA-nya.

Generasi muda kita sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa  Salah satu cerita sukses adalah keripik Maicih yang sedang fenomenal saat ini. Berawal dari ide seorang Reza Nurhilman untuk membuat sebuah keripik dengan level rasa pedas yang berbeda, keripik ini membuat heboh kota Bandung. Dengan keterbatasan dana, tak membuat Reza kehabisan akal. Ia memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media pemasaran. Cara promosinya juga sangat kreatif. Kalau biasanya pedagang yang berinisiatif untuk mencari pelanggannya, Reza membuat hal sebaliknya. Ia berjualan dengan cara berpindah-pindah dan keberadaanya hanya dapat dikjetahui melalui akun twitternya. Cara ini sukses mengundang rasa penasaran konsumen. Hanya setahun setelah meluncurkan usahanya di Twitter, ia mampu mengantongi omzet penjualan Rp4 miliar per bulan.

Adapun di daerah saya, yaitu Lampung, terkenal dengan kripik pisangnya. Siapa yang tidak kenal dengan kripik pisang Lampung? Keripik ini sudah menjadi identitas Lampung. Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Lampung tanpa membeli oleh-oleh ini. Namun,langkah pengusaha keripik ini kurang didukung oleh pemerintah. Jika saya menjadi anggota DPD Lampung, saya berkeinginan untuk mendukung para wirausahawan muda ini. Caranya dengan membuat kontes untuk menciptakan produk-produk baru. Jadi Lampung tidak hanya dikenal dengan keripik pisang saja, tapi juga dikenal dengan makanan lain. Di sebuah daerah di Lampung juga, saya mengetahui adanya keripik semangka dan pepaya. Akan tetapi berkat sosialisasi yang kurang, saya sebagai warga Lampung pun tidak mengetahui bagaimana cara memperoleh keripik ini. Padahal, jika didukung penuh oleh pemerintah, keripik semangka juga bisa dijadikan sebagai identitas daerah Lampung. Harapannya, ini membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Melihat tulisan saya di atas, kita bisa melihat bahwa ada banyak sekali ide-ide cemerlang di kalangan generasi muda. Hanya sayang, potensi ini tidak tersalurkan dengan semestinya. Sudah saatnya kita banyak menyerahkan tanggung jawab pada mereka yang muda. Seperti halnya di Kementerian Design Republik Indonesia yang beralamat di http://kdri.web.id/ . Mereka berinisiatif membuat desain dari lambang-lambang pemerintahan yang dinilai sudah ketinggalan zaman menjadi lambang yang lebih menjual. Misalnya,  logo komodo dari Sea Games yang dinilai lebih mirip cicak, mereka lalu membuat design yang lebih keren. Sayang, pemerintah tidak melihat hal ini. Jika saya menjadi anggota DPD nanti, saya akan melirik potensi-potensi ini dan mendukung ekonomi kreatif generasi muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s